Saturday, April 24, 2010

Wanita-wanita Perkasa Aceh (Kenapa Harus Kartini?) Bag-2

Saturday, April 24, 2010
Ini merupakan Lanjutan dari Wanita-wanita Perkasa Aceh (Kenapa harus Kartini?) pada postingan yang lalu karena terlalu panjang, saya coba membaginya menjadi beberapa postingan, ini postingan yang ke-2.

Ratu Safiatuddin (1854 - 1899)
Bergelar Paduka Sri Sultana Ratu Safiat ud-din Taj ul-’Alam Shah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Shah. Dilahirkan dengan nama Putri Sri Alam. Safiat ud-din Taj ul-’Alam memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia.” Ia memerintah antara tahun 1641-1675. Diceritakan bahwa ia gemar mengarang sajak dan cerita dan membantu berdirinya perpustakaan di negerinya.

Sebelum ia menjadi ratu, Aceh dipimpin oleh suaminya, yaitu Sultan Iskandar Thani (1637-1641). Setelah Iskandar Thani wafat amatlah sulit untuk mencari pengganti laki-laki yang masih berhubungan keluarga dekat. Terjadi kericuhan dalam mencari penggantinya. Kaum Ulama dan Wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan alasan-alasan tertentu. Kemudian seorang Ulama Besar, Nurudin Ar Raniri, menengahi kericuhan itu dengan menolak argumen-argumen kaum Ulama, sehingga Ratu Safiatuddin diangkat menjadi ratu.

Ratu Safiatuddin memerintah selama 35 tahun, dan membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan. Sejarah pemerintahan Ratu Safiatuddin dapat dibaca dari catatan para musafir Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda. Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang baik.

Sri Ratu Nur Alam Nakiatuddin Syah (1675 - 1678)
Menggantikan Ratu Safiatuddin yang wafat dan memerintah dari tahun 1675-1678. Ia mengadakan beberapa perubahan terhadap Tata Negara yang ada. Ia memerintah selama 2 tahun sampai kemudian wafat pada 23 Januari 1678.

Sri Ratu Inayat Syah Zakiatuddin Syah
Diangkat menggantikan Ratu Nakiatuddin. Ia dikatakan sebagai seorang ratu yang bijak dan berpengetahuan luas dalam berbagai bidang. Ia bahkan menguasai bahasa Arab, Persia, Urdu, Spanyol dan Belanda yang dipelajarinya dari seorang perempuan Belanda yang bekerja di kraton Daud Dunia sebagai Sekretaris Sultanah. Kaum Wujudiah penentang sultan perempuan mulai kembali menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap kekuasaan Ratu Zakiatuddin. Mereka mengadu ke Syarif di Mekah yang lantas mengirim utusan ke Aceh. Utusan tersebut kagum melihat kemakmuran Banda Aceh sebagai kota internasional. Ratu Zakiatuddin memerintah 10 tahun lamanya sampai ia wafat pada 3 Oktober 1688.

Ratu Kumala Syah (1678 - 1688)
Menggantikan Ratu Zakiatuddin dan memerintah dari tahun 1678-1688. Kaum Wujudiah masih tetap tidak menyetujui adanya sultan perempuan. Syarif Hasyim salah satu dari mereka, lalu mengawini Sang Ratu guna mempercepat kejatuhan Ratu. Sementara itu kaum Wujudiah terus menerus mengadu kepada Syarif Mekkah sehingga datanglah surat Mufti Mekkah yang menegaskan ketidak-setujuannya perempuan menjadi Sultanah Aceh. Surat tersebut lalu dibicarakan secara musyawarah diantara kalangan pembesar negara dan dimenangkan oleh kelompok anti ratu perempuan. Rabu 1 Oktober 1699 Ratu Kumala dimakzulkan (diturunkan) dari tahta dan diganti oleh suaminya, Syarif Hasyim.

-------------------------------------------------Bersambung------------------------------------
Sumber : http://virtualaceh.com





0 comments:

Post a Comment

Donation

 

Twitter

Ikuti Via Google

Ikuti Via FB