Monday, April 19, 2010

Loyang Pukes

Monday, April 19, 2010

Masih ditanah Gayo dan masih mengenai Goa, kali ini kita akan membahas tentang Goa Loyang Pukes yang berjarak kira² empat KM dari Goa Loyang Koro. Goa ini konon berhubungan dengan lagenda Putri Pukes yang berubah menjadi batu, walau sekarang Loyang Pukes tidak lagi asli karena sudah di semen. Goa ini terletak di Kampung Mendale Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah. Didalam Goa terdapat Batu menyerupai manusi, itulah yang disebut-sebut sebagai putri Pukes juga terdapat telapak kaki manusia zaman purba, tempat menumbuk beras, sumur, tempat bertapa, kendi air minum, senjata zaman purba dan lainnya.

Menurut legenda putri Pukes menjadi batu karena tidak mendengarkan nasehat ibunya. Putri Pukes merupakan anak kesayangan dan satu²nya dari keluarga yang berasal dari kampung Mengaya, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Suatu hari dia dijodohkan dengan seorang pria yang berasal dari kampung Simpang Tiga, Kecamatan Bener Meriah, Aceh Tengah. Pernikahan pun dilaksanakan berdasarkan adat setempat, mempelai wanita harus tinggal dan menetap di tempat mempelai pria. Setelah resepsi pernikahan di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya kedua mempelai di antar menuju tempat tinggal. Pihak mempelai wanita di antar ke rumah pihak pria di kampung Simpang Tiga, Bener Meriah. Pada acara yang disebut 'munenes' ini pihak mempelai wanita dibekali sejumlah peralatan rumah tangga, seperti kuali, periuk, kendi, lesung, alu, piring, periuk dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya.

Adat 'munenes' biasanya dilakukan pada acara perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem 'juelen' dimana pihak wanita tidak berhak lagi kembali ke tempat orang tuanya. Berbeda dengan sistem 'kuso kini' (kesana kemari) atau 'angkap'. Kuso kini, pihak wanita berhak tinggal di mana saja, sesuai kesepakan dengan suami, sementara sistem 'angkap' adalah kebalikan dari 'juelen' pada sistem ini pihak pria yang wajib tinggal bersama keluarga wanita, dikarenakan pihak wanita yang melamar pria. Pernikahan ini juga bisa disebabkan karena mempelai pria mengemis pada pihak keluarga wanita supaya mau dinikahkan dengannya walaupun dia harus tinggal bersama keluarga wanita.

Nah, sangat akan melepas Putri Pukes dengan iringan-iringan pengantin, ibu Putri Pukes berpesan kepada putrinya yang sudah menjadi istri sah mempelai pria. "Nak...! sebelum melewati daerah Pukes (yaitu daerah rawa-rawa sekarang menjadi Danau Lut Tawar) kamu jangan pernah melihat kebelakang." kata ibu putri Pukes. Sang putri pun berjalan sambil menangis dan mengusap air mata yang keluar terus menerus karena berpisah dengan orang tua. Tidak sanggup menahan sedih yang terlalu dalam membuat putri Pukes melupakan nasehat orang tuanya dan tidak sengaja melihat kebelakang. Ketika dia melihat kebelakang, diapun berubah menjadi batu seperti yang sekarang kita temui di dalam goa Loyang Pukes. Terlepas benar tidaknya cerita rakyat tersebut yang jelas didalam goa tersebut memang ada batu yang menyupai manusia.


0 comments:

Post a Comment

Donation

 

Twitter

Ikuti Via Google

Ikuti Via FB