Friday, April 2, 2010

Chik Awe Geutah, Intelektual Muda

Friday, April 2, 2010

CATATAN minggu ini tentang ulama Mekkah yang ke Aceh pada masa Sultan Badrul Munir Jamailullail bin Syarif Hasyim (1703-1726). Sejak Azyumardi Azra meneliti jaringan ulama Nusantara pada abad XVII-XVII, didapati hubungan Aceh dengan Haramayn (Mekkah dan Madinah) telah membawa gagasan pembaharuan Islâm di Nusantara. Maka kehadiran Chik Awe Geutah ke Aceh tidak lepas dari jaringan ulama pada abad ke-17 dan 18 itu.

Tgk Chik Awe Geutah yang nama aslinya Syaikh ‘Abdurrahim Bawarith al-Asyi adalah anak Syaikh Jamaluddin al-Bawaris dari Zabid Yaman. Bersama adiknya Syaikh Abdussalam Bawarith al-Asyi, dan tujuh ulama lain, di antaranya Teungku di Kandang dan Syaikh Daud Ar Rumi, mereka berangkat ke Aceh.

Sampai sekarang, keturunan Chik Awe Geutah bermukim di sekitar kuburannya di Awe Geutah, Peusangan. Dari wilayah itu beliau menyiarkan Islâm ke seluruh pelosok Serambi Mekkah dengan berkonsentrasi pada ilmu tafsir, hadits, fiqah dan tassauf. Sedangkan adiknya yang menetap di Samalanga, mendirikan Dayah Cot Meurak di Samalanga.

Catatan sejarah, kedua cendekia muslim itu (Syaikh Abdurrahim dan Syaikh Abdussalam) sebelum merantau ke kerajaan Aceh dititipkan oleh orangtua mereka pada Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji di Zabid, Yaman yang kemudian belajar di Mekkah dan Madinah. Pengajian beliau pada Syaikh Al-Mizjaji di Zabid, dapat diketahui dari salah satu manuskrip di Awe Geutah. Terdapat catatan-catatan sanad Al-Azkar dan Riyadh al-Shalihin karya Imam an-Nawawi tentang sanad hadits pengalihan kiblat (hadits musalsal), dan juga di dalam silsilah ratib Haddad yang terdapat di antara lembaran-lembaran manuskrip tersebut.

Prof. Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama menyebutkan, Syaikah Al-Mizjaji ini juga guru dari Murthadha Az-Zabidi (wafat 1205 H), pengarang Taj Al-‘Urus min Jawahir Al-Qamus dan Ithaf As-Saadah AlTaj Al-’Urus min Jawahir Al-Qamus dan Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin . Murthadha Az-Zabidi kemudian merantau ke Mesir dan menjadi ulama terkemuka di sana.

Ijazah ilmu
Untuk mengetahui hubungan al-Mijazi dengan kedua Ulama besar ini, dapat dilihat dalam satu naskah yang kini masih tersimpang di Awe Geutah; tertulis “ Wa ba’d, maka inilah sanad Al-Azkar dan Riyadh Ash-Shalihin bagi Al-Imam Syaraf Ad-Din An-Nawawi Rahimahullah. Faqir kepada Allah, `Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji, semoga Allah memanjangkan umurnya, berkata: sesungguhnya aku telah meijazahkan ananda yang shalih, `Abd Ar-Rahim Al-Asyi sebagaimana telah diijazahkan kepadaku keduanya (Al-Azkar dan Riyadh Ash-Shalihin) Ayahanda, wali yang sempurna lagi menyempurnakan, dan Al-’Arif bi-lLah, Az-Zain bin Muhammad Al-Mizjaji” dan ini menjadi bukti sejarah menunjukkan bagaimanan hubungan intelektual Aceh dengan para ulama besar di jazirah Arab.

Ijazah ilmu menjadi tradisi intelektual Islâm. Keharusan guru memberikan kepada muridnya agar ilmu yang disebarkan oleh murid memiliki dasar yang kuat. Pemberian Ijazah ini merupakan tradisi keilmuan di timur tengah yang sampai sekarang masih dilakukan.

Bila ditelusuri pengakuan ijazah ilmu, maka sampai pada Chik Awe Geutah juga mendapatkan sanad ilmu dari ulama besar, yang memiliki murid yang amat dikenal di rantau Asia Tenggara, yaitu Ibrahim al-Kurani. Seperti pengakuan berikut; “Wa ba’d, maka sungguh telah di-ijazah-kan kepadaku oleh syaikhiy lagi quduwwatiy, seorang yang utama dan sempurna, `Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji dari Asy-Syaikh Mulla Ibrahim Al-Kurdi Al-Kuraniy.” Dari jaringan keilmuan ini, maka dapat diketahui bahwa guru-guru al-Kurani adalah Ahmad Qushashi, Ahmad Shinawi, dan `Abd Karim al-Kurani, yang mengembangkan tarekat Shattariyyah di Haramayn. Karena itu, tidak mengejutkan jika Chik Awe Geutah dan adiknya pengembang tarekat Syattariah di Aceh. Buktinya, di Awe Geutah dan Samalanga para pengikut tarekat ini sangat banyak, untuk tidak menyebutkan di beberapa wilayah Aceh lainnya.

Disebutkan setelah di Aceh, Chik Awe Geutah bersama adiknya Syaikh Abdussalam menetap di Lamkabeu Seulimum Aceh Besar. Namun, Sultan Badrul memintanya untuk pergi ke pantai timur karena di Aceh Besar telah ada Teungku Chik Tanoh Abe yang berasal dari Baghdad dan pengembang tarekat Syattariyyah. Syaikh Abdussalam memutuskan menetap di Cot Meurak Samalanga. Dia akhirnya membuka Zawiyah di sana yang sampai sekarang masih ada bukti sejarahnya. Adapun abangnya, Chik Awe Geutah ke Peusangan dan membuka Zawiyah di Awe Geutah dengan berkonsentrasi pada pengajian Alquran, hadis, fiqh dan tasawwuf. Samalanga dan Peusangan dan telah menjadi pusat pendidikan dayah sampai hari ini

Maka kita bisa memahami ilmu Islâm yang dikembangkan oleh para ulama terdahulu sangatlah tidak mudah dan menuntut mujahadah yang amat besar. Ilmu Islâm yang berkembang di Aceh saat ini, memang tidak terlepas dari jasa kedua ulama besar ini, walaupun semangat mereka tidak begitu diperhatikan oleh generasi Aceh sekarang. Minat untuk mencari ilmu Islâm memang sudah tidak begitu popular, apalagi ingin mengembangkan ilmu-ilmu yang pernah disemaikan oleh kedua ulama tersebut.

Sisi lain, hubungan Aceh dengan Haramayn tidak bisa dipandang sebelah mata. Munculnya dayah-dayah di penjuru Aceh adalah sinar pengembangan ilmu Islâm saat itu. Melihat dari kedatangan dan jaringan intelektual keislaman Chik Awe Geutah dan adiknya, saya beranggapan bahwa ilmu merupakan hal yang sangat penting bagi orang Aceh pada abad ke-17. Sultan selalu memanggil dan memerintahkan ulama untuk aktif mengembangkan ilmu bagi rakyat Aceh.

Kecuali hubungan Aceh dan Haramayn juga menyiratkan bagaimana hubungan antara ‘rumah’ dan ‘serambi’ seperti yang dikenal saat ini yakni Serambi Mekkah, Maka tidak heran sampai saat ini masih tersisa peninggalan Aceh di Mekkah yang berbentuk tanah tanah dan rumah wakaf yang dijadikan sebagai asrama bagi mahasiswa Aceh yang menuntut ilmu di sana. Jadi, lakab ini bukan karena kemegahan istana atau kepiawaan bala tentara, tetapi ilmu yang dikembangkan oleh ulama Aceh adalah ilmu-ilmu yang berasal dari sumber penyebaran Islam di dunia ini yakni Mekkah dan Madinah. Adakah generasi Islam Aceh sekarang mau bercermin? Ketika ulama pada masa dulu dalam menyebar ilmu, tidak mau dibelokkan akal dan pikirannya pada materi, seperti slogan mencari ilmu untuk bekerja. Sebab ulama dulu mencari ilmu adalah untuk mengenal Allah dan menuju manusia yang sempurna (insan kamil). Sedangkan ulama sekarang entahlah...? *
--------------
Penulis: M. Adli Abdullah
sumber : www.serambinews.com

0 comments:

Post a Comment

Donation

 

Twitter

Ikuti Via Google

Ikuti Via FB