Thursday, April 15, 2010

Aceh Tengah

Thursday, April 15, 2010



Setelah Kabupaten Bireuen Kali ini kita jalan-jalan ke Aceh Tengah,. namun pada postingan pertama tentang Aceh Tengah ini saya coba memperkenalkan dulu profil singkat Kabupaten Negeri Antara ini. Kabupaten yang selalu masuk dalam hikayat Malem Diwa (yang penulis tau Versi Aceh Utara) Dimana dikisahkan Teungku Malem dari Kuta Piadah (Blang Glumpang kec. Seunuddon sekarang) berkelana ke Negeri Antara dan bertemu Putri Bungsu yang merupakan 7 bersaudara dan bisa terbang, kisah yang banyak terdapat di Nusantara (di Jawa ada Jaka Tarub dan 7 Bidadari). Berikut ada profil Singkat Kabupaten Aceh Tengah tempat Danau Lau Tawar berada tempat Putroe Bungsu bersemayam di Istana Negeri Antara.

Kabupaten Aceh Tengah dikenal pula sebagai Dataran Tinggi Gayo adalah salah satu kabupaten di Aceh, Indonesia. Ibukotanya adalah Takengon. Daerah yang berada di salah satu bagian punggung pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera. Ibu Kota Kabupaten ini berhawa yang sejuk. Aceh Tengah terkenal dengan Danau Laut Tawar. Aceh Tengah merupakan daerah penghasil kopi organik jenis arabika terbaik di dunia. Selain kopi, Aceh Tengah juga penghasil buah-buahan dan sayuran. Sebagian besar masyarakat Aceh Tengah berprofesi sebagai petani.

Secara administratif dataran tinggi Gayo meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah serta kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya yaitu Takengon, Blang Kejeren dan Simpang Tiga Redelong.

Jalan yang menghubungkan ketiga kota ini melewati daerah dengan pemandangan yang sangat indah. Pada masa lalu daerah Gayo merupakan kawasan yang terisolir sebelum pembangunan jalan dilaksanakan di daerah ini. Mata pencarian masyarakat Gayo pada umumnya adalah bertani dan berkebun antara lain padi, sayur-sayuran, kopi dan tembakau. Kegiatan perkebunan kopi dan tembakau dilakukan dengan membuka wilayah hutan yang ada di wilayah ini.

Pada umumnya mayarakat di Aceh, orang Gayo juga dikenal karena sifat mereka yang sangat menentang segala bentuk penjajahan dan daerah ini dulu dikenal sebagai kawasan yang sangat menentang pemerintahan kolonial Belanda. Masyarakat Gayo adalah penganut Agama Islam yang kuat. Masyarakat di Gayo banyak yang memelihara kerbau, sehingga ada yang mengatakan jika melihat banyak kerbau di Aceh maka orang itu pasti berada di Gayo.

Batas wilayah

Utara Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Bireuen
Selatan Kabupaten Gayo Lues
Barat Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Pidie dan Kabupaten Nagan Raya
Timur Kabupaten Aceh Timur

Bupati

Bupati yang sekarang adalah Ir. H. Nasaruddin, MM menggantikan Drs. H. Sahbuddin, BP yang dilantik Gubernur Aceh tanggal 3 April 2007. Ir. H. Nasaruddin, MM lahir di Takengon, 17 Juli 1957. Meraih gelar Sarjana Pertanian (S-1) dan Magister Manajemen (S-2) dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Wakil Bupati adalah Drs. H. Djauhar Ali.

Zaman Penjajahan Belanda

Kedatangan kaum kolonial Belanda sekitar tahun 1904, tidak terlepas dari potensi perkebunan Tanah Gayo yang sangat cocok untuk budidaya Kopi Arabika, Tembakau dan Damar. Pada periode itu wilayah Kabupaten Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibukotanya. Dalam masa kolonial Belanda tersebut di kawasan Takengon didirikan sebuah perusahaan pengolahan Kopi dan Damar. Sejak saat itu pula kawasan Takengon mulai berkembang menjadi sebuah pusat pemasaran hasil bumi Dataran Tinggi Gayo, khususnya Sayuran dan Kopi.

Zaman Penjajahan Jepang

Sebutan Onder Afdeeling Takengon di era kolonial Belanda, berubah menjadi Gun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Gun dipimpin oleh Gunco.

Zaman Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, sebutan tersebut berganti menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi kabupaten.

Kabupaten Aceh Tengah berdiri pada tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-Oendang Nomor 10 Tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-Undang Nomor 7 (Darurat) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kewedanaan yaitu Kewedanaan Takengon, Kewedanaan Gayo Lues, dan Kewedanaan Tanah Alas.

Radio Rimba Raya (Desember 1948 - ... 1949) adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Takengon, Aceh Tengah oleh Tentara Republik Indonesia Divisi X/Aceh pimpinan Kolonel Husin Yusuf. Radio ini mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia

Pariwisata

Objek wisata di Aceh Tengah ialah Danau Laut Tawar, Pantan Terong (atraksi pemandangan), Taman Buru Linge Isak (berburu), Gua Loyang Koro, Loyang Pukes, Loyang Datu, Burni Klieten (hiking), dan Krueng Peusangan (rafting).

Masyarakat

Sebagian besar penduduknya berasal dari suku Gayo. Selain itu terdapat pula suku-suku lainnya, seperti Suku Aceh dan Suku Jawa. 99 persen masyarakat Aceh Tengah beragama Islam. Masyarakat Aceh Tengah memiliki tradisi tahunan pada saat perayaan proklamasi Indonesia yaitu pacu kuda tradisional. Hal yang unik dari pacu kuda tradisional ini adalah jokinya yang muda berumur antara 10-16 tahun. Selain itu, joki juga tidak menggunakan sadel.

Adat dan Kesenian

Didong merupakan salah satu kesenian asli yang berasal dari daerah dataran tinggi ini. Sekelompok orang duduk bersila membentuk lingkaran. Salah seorang ceh akan mendendangkan syair-syair dalam bahasa Gayo dan anggota yang lain akan mengiringi dengan tepukan tangan dan tepukan bantal kecil dengan ritme yang harmonis.

Pendidikan

Kabupaten Aceh Tengah memiliki sebuah universitas yang bernama Universitas Gajah Putih.

Demikian Profil Singkat Kabupaten Aceh Tengah, pada postingan yang akan datang penulis coba membahas satu persatu tempat-tempat wisata dan makanan di Kabupaten ini.

0 comments:

Post a Comment

 

Twitter

Ikuti Via Google

Ikuti Via FB