Tuesday, March 23, 2010

Pulau Raya

Tuesday, March 23, 2010


Pada postingan yang lalu saya telah menerangkan tentang Pulau Rusa, sekarang kita akan membahas satu lagi pulau yang letaknya di Samudera Hindia dan berdekatan dengan Pulau Rusa, yang sedikit berbeda adalah, kalu Pulau Rusa tidak berpenghuni maka pulau yang luasnya sama ini (2 km²) berpenghuni dan berada di Kabupaten yang berbeda dengan Pulau Rusa. Nama Pulau ini adalah Pulau Raya.

Sebelum Tsunami pulau ini di huni oleh kira² 1.000 Jiwa, penghasilannya penduduknya 100% dari laut. Namun setelah tsunami melanda Aceh, pulau ini sempat tidak berpenghuni, pelabuhannya yang tergolong besar rusak parah, namun sekarang sudah ada penduduk yang kembali menghuni pulau Raya. Penduduk di Pulau Raya tinggal di tiga gampoeng ; Lhok Siron, Lhok Meu dan Ujung Manek. Mereka umumnya berasal dari daerah Lamno, Aceh Barat (sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Jaya setelah pemekaran) dan telah menghuni pulau tersebut sejak abad ke 18.

Pulau Raya juga punya kenangan masa lalu yang masih dikenang oleh penghuninya, Dahulu selain mempunyai pelabuhan besar, Pulau Raya merupakan pusat ekonomi di Aceh Barat.
Kebesaran pelabuhan mereka memudar seiring dibangunnya pelabuhan di Calang pada 1908. Namun kisah kebesaran itu masih terekam dalam syair-syair Saman masyarakat Aceh Barat: “Kala dulu tersebut Raya yang ramai sampai tiba masanya, Surutlah Raya ketika Calang berkembang”

Pada akhir abad 19 ketika VOC berusaha menguasai Aceh dan menghadapi perang Aceh, medan perang terberat mereka adalah di Aceh Barat. Untuk mendukung penyerangan, pasukan VOC mendirikan pangkalan militer di Pulau Raya agar lebih terlindung dari serangan gerilyawan Aceh. Pada masa itu 50 kapal bisa berlabuh di pesisir Lhok Siron Pulau Raya. Angka itu berdasarkan tiang-tiang tambat yang didirikan Belanda disana, walau kini tiang-tiang itu nyaris tak tampak, selain rusak dan disapu tsunami 2004. Dua tiang yang tersisa kadang hilang tertutup pasang.

Bangunan bangunan peninggalan markas militer Belanda sebagian besar sudah hilang dibakar dan dirusak ketika perang kemerdekaan Republik Indonesia. Sisa yang masih tampak tinggal sebuah bak penampungan air minum dan sebuah sumur yang terbuat dari batu bata serta sisa-sisa saluran air.

Pulau Raya yang menjadi pulau terdepan atau titik batas wilayah negara NKRI terletak di kecamatan Sampoinet, kelurahan Lhok Kruet, Kabupaten Aceh Jaya, Propinsi NanggroeAceh Darussalam. Daerah Lhok Kruet bisa dicapai dari Banda Aceh melalui jalan propinsi menyusur pantai bagian Barat sejauh 65 km ke arah Meulaboh. Jalan tersebut melalui wilayah-wilayah Lhonga, Lhong, dan Lamno.

Pulau Raya mempunyai beberapa mata air dan aliran sungai kecil, di sisi Utara di daerah Lhok Siron terdapat daerah rawa sekitar beberapa ratus meter persegi. Pantai pasir yang lebar umumnya ada di sisi Utara, sedangkan di sisi Selatan Pulau Raya hampir seluruhnya berupa dinding karang curam.

Kontur permukaan pulau memanjang dari Barat ke Timur itu meninggi disisi Selatan dan melandai di sisi Utaranya. Sehingga pemukiman ada didaerah sisi Utara pulau yang datar di kaki bukit. Bukit-bukit di belakang perkampungan itu pula yang menyelamatkan sebagian penduduk pulau tersebut ketika tsunami menyapu kampung mereka. Sebagian besar permukaan pulau ditutupi tumbuhan kayu keras, perdu, semak, pohon kelapa dan pinang.

Di ujung Barat pulau Raya wilayah yang dikenal penduduk sebagai Ujung Manek, merupakan perbukitan tanah merah dan karang. Karang di sisi paling barat berakhir dinding curam ke arah Samudera Hindia yang bergelombang keras.

Di pulau Raya tertanam pilar beton Titik Dasar 174, penanda resmi titik ukur batas wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Empat meter ke timur TD 174 berdiri tiang lampu Suar sebagai tanda navigasi bagi kapal yang berlayar di perairan wilayah tersebut. Namun lampu suar tersebut kini tidak berfungsi.




0 comments:

Post a Comment

Donation

 

Twitter

Ikuti Via Google

Ikuti Via FB